Think.
Bersyukur dan Ikhlas.
Dua kata yang mudah sekali untuk diucapkan.
Mudaaaah sekali diketik. Tidak semudah dijalankan.
Kadang pernah terlintas dipikiran dengan suatu kejadian,
" Kenapa begitu ? ",
" Kenapa ya ? Seandainya saja.. ".
Sering kita lupa.
Bahwa dua kalimat itu menandakan tiada kita mempercayai qodar dari-Nya.
Pernah kita termenung.
Terdiam.
Memikirkan banyak kejadian yang kita harapkan.
'Harapkan'.
Sesuatu yang terkadang tidak terealisasi sedemikian yang dibayangkan.
Bukan.
Bukan waktunya berkata " Kenapa ? ".
Terkadang merasa lelah.
Lelah dengan semua pemikiran ini.
Ingin membiarkannya.
Tapi,
Tetap harus memikirkannya.
Tetap harus melewatinya.
Sesaat pernah terlintas,
Merasa sepi.
Merasa sendiri.
Tapi,
Ada yang berbisik dipendengaran.
" Kamu lupa ? "
" Kamu tak sadar ? "
Ada yang dengan setianya selalu mengawasimu.
Ada yang dengan setianya selalu mendengarkanmu, melebihi siapapun.
Hanya dengan satu syarat, kamu mau berbicara dengan-Nya.
Ada yang dengan dermawannya mau menolongmu, dikala susahmu.
Hanya dengan satu syarat, kamu mau menolong didalam jalan-Nya.
Ada yang dengan baiknya mau memberi apa yang kamu minta.
Hanya dengan satu syarat, kamu mau meminta pada-Nya.
Bersyukur.
Setelah melewati semua kejadian.
Cukup kamu bersyukur dan ikhlas.
Bersyukur dengan cara kamu tak berandai-andai dengannya.
Bersyukur dengan kamu selalu menerima apapun yang kamu terima.
Mengikhlaskan.
Ikhlas itu besar.
Ikhlas itu kuat.
Ikhlas itu menerima.
Ikhlas itu memberi.
Ikhlas itu menangkap dan,
Ikhlas itu melepaskan.
Kelak.
Pasti dijanjikan oleh-Nya.
Pasti ada jawaban dari segala kejadian.
Pasti ada balasan dari segala perbuatan.
Komentar
Posting Komentar